banner 728x250
Berita  

Kejujuran, Keadilan, dan Kedermawanan – Keberanian dan Keseimbangan Demi Penegakan Hukum

banner 468x60

Imam Yakhsyallah Mansur (Dok.Swasta).

banner 336x280

Oleh Imam Yakhsyallah Mansur

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, jadilah saksi karena Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri atau orang tua dan kerabatmu. Jika Anda kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui manfaat. Maka janganlah mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau menolak menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 135)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menegakkan keadilan, dan tidak sedikitpun menjauhkan mereka dari keadilan. Jangan mundur menegakkan keadilan hanya karena celaan orang yang mengkritik. Mereka juga tidak boleh dipengaruhi oleh apa pun yang menjauhkan mereka dari keadilan. Mereka harus saling membantu, bekerja sama, saling mendukung dan saling membantu untuk keadilan.

Jadi, jika kesaksian itu dibuat karena Allah, maka kesaksian itu dikatakan benar, adil, dan benar serta bebas dari penyimpangan, perubahan, dan kebatilan. Dengan kata lain, menjunjung tinggi kesaksian dengan benar, bahkan jika bahaya menimpa diri Anda sendiri.

Ketika Anda ditanya tentang suatu hal, katakan yang sebenarnya, bahkan jika kerugian itu kembali pada diri Anda sendiri. Karena sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap hal yang sempit bagi orang-orang yang taat kepada-Nya.

Sesungguhnya, jagalah dirimu dalam keadilan dalam keadaan apapun, sebagaimana dinyatakan oleh firman-Nya yang lain: “Dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Bersikaplah adil, karena keadilan lebih dekat dengan ketakwaan.” (Surat al-Maidah [5]:8)

Mengenai keadilan, Abdullah bin Rawwahah pernah diutus oleh Nabi untuk menafsirkan buah-buahan dan tanaman milik orang Yahudi Khaibar. Saat itu orang-orang Yahudi Khaibar berniat menyuapnya agar bersikap lunak terhadap mereka.

Tetapi Abdullah bin Rawwahah berkata, “Demi Allah, aku datang kepadamu dari makhluk yang paling aku cintai, dan aku membencimu lebih dari monyet dan babi yang setara denganmu. Ini bukan karena cintaku padanya, atau kebencianku pada Anda bahwa saya tidak melakukan keadilan kepada Anda.” Mereka berkata, “Ini berarti bahwa langit dan bumi akan tetap tegak.”

Sementara itu dalam sebuah hadits, Nabi bersabda: “Saksi yang terbaik adalah yang memberikan kesaksiannya sebelum diminta untuk bersaksi.” (HR.Muslim).

Jaga Amanah

Di sisi lain, menjaga kepercayaan adalah salah satu hal yang paling sulit. Sebab, sifatnya memberi kepercayaan agar dijalankan dan dipelihara dengan baik. Dalam hal amanah, setiap muslim hendaknya berhati-hati agar tidak berperilaku menyimpang, karena pada hakekatnya tanggung jawab atas hal ini adalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena beratnya amanah, seseorang yang menyia-nyiakannya, baik fisik maupun mental, dikategorikan sebagai orang munafik.

Jika seorang muslim dititipi sesuatu (amanah) oleh orang lain, maka ia harus menunaikannya sesuai dengan akad yang telah disepakati sebelumnya. Jika tidak dapat dilakukan karena usia syar’i, maka ia harus merawatnya dengan baik atau mengembalikannya kepada pemiliknya.

Dalam hal ini Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kamu) ketika menetapkan hukum di antara manusia agar kamu menghakimi dengan adil. Sesungguhnya Allah telah mengajari kamu yang terbaik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. An-Nisa'[4]: 58)

Mengenai amanah jabatan, seorang muslim dituntut untuk selalu menjalankan kewajiban dan tugas jabatannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang ada. Ia dilarang keras menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok. Termasuk dalam kategori menyalahgunakan jabatan adalah pengalokasian dana rakyat untuk upah (gaji) secara berlebihan, di luar batas normal dan tidak sesuai dengan kapasitas kerja.

Termasuk bentuk penghianatan amanat jabatan juga menerima hadiah, komisi dan gratifikasi. Larangan itu semua diisyaratkan dalam hadits Nabi Sahalllallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Barangsiapa yang kami angkat sebagai pegawai untuk melakukan suatu pekerjaan dan kami berikan kepadanya upah sesuai dengan apa yang layak diterimanya, maka apa yang diambilnya lebih dari upah yang semestinya, termasuk barang hasil korupsi.” (HR.Abu Dawud).

Kedermawanan adalah Sumber Kebahagiaan

Selain berpegang pada prinsip kejujuran dan keadilan, seorang muslim dimanapun dia berada, termasuk umat Islam di Indonesia harus memahami pentingnya kedermawanan, apalagi kedermawanan adalah sumber kebahagiaan.

Berdasarkan data dari Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan penduduk paling dermawan.

Kedermawanan masyarakat Indonesia merupakan aset berharga yang harus dikelola dengan baik, karena aset tersebut akan tetap terjaga, meski dalam kondisi pandemi dan kesulitan ekonomi.

Berkaitan dengan hal tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan sosial dan kemanusiaan diyakini mampu menciptakan rasa bahagia. Banyak penelitian yang mendukung fakta ini, yaitu bahwa berbagi dapat menciptakan dan meningkatkan kebahagiaan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Jorge Moll dan rekan-rekannya di National Institutes of Health, Maryland, Amerika Serikat.

Mereka menemukan hasil penelitian yang menarik, yaitu ternyata ketika orang berdonasi untuk beramal, akan ada stimulus yang mengaktifkan saraf otak dan menghasilkan hormon kesenangan dan kebahagiaan yang pada gilirannya dapat menciptakan perasaan dan perilaku positif.

Jadi, bagi kita yang sudah terbiasa bersedekah, kebiasaan ini perlu diteruskan karena pada hakikatnya kebaikan itu akan kembali dengan sendirinya. Dengan kata lain, tidak ada kebaikan yang sia-sia. Setiap kebaikan akan menularkan kebaikan orang lain. Oleh karena itu, teruslah bersedekah dengan menyalurkan dana rakyat kepada yang berhak menerimanya.

Allah berfirman dalam Surah al-Isra [17]: 7, “Jika kamu berbuat baik (artinya) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

tanggung jawab negara

Masih terkait dengan keadilan, salah satu tujuan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah terwujudnya kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Dalam pasal 34 ayat (1) UUD 1945 disebutkan, “Orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Klausul tersebut mengamanatkan bahwa negara harus hadir dan memperhatikan fakir miskin dan anak terlantar dengan memberikan pengasuhan dan dukungan kepada mereka.

Arti kata “dipelihara” adalah negara melaksanakan program-program pengentasan dan pemberdayaan masyarakat, sehingga mampu keluar dan terlepas dari kondisi fakir, miskin, dan terlantar.

Akan sangat bijaksana jika pemerintah selain melaksanakan program pembangunan infrastruktur, ekonomi, hukum dan lainnya, juga memaksimalkan program pengentasan kemiskinan, sebagaimana diamanatkan oleh Konstitusi.

Program pengentasan kemiskinan harus menjadi program prioritas mengingat indeks kemiskinan di Indonesia masih tinggi, berdasarkan penelitian Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bahwa jumlah penduduk miskin pada 2022 akan mencapai 29,3 juta orang.

Selain itu, pemberantasan korupsi harus menjadi perhatian khusus. Data Badan Transparansi Internasional tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia mendapat skor 38, dengan warna oranye. Artinya Indonesia masih rawan korupsi. Negara dengan korupsi minimal terbukti rakyatnya sejahtera. Di sisi lain, negara-negara dengan korupsi tinggi memiliki orang-orang yang sangat miskin.

Dalam melaksanakan program pengentasan kemiskinan, pemerintah tentu membutuhkan peran swasta. Fakta di masyarakat menunjukkan bahwa pihak swasta juga terlibat dalam pengumpulan donasi untuk program pengentasan kemiskinan, bantuan untuk korban bencana alam, dan program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Jadi, sinergi yang baik antara pemerintah dan swasta dalam hal ini sangat diperlukan. Peran negara sangat dinantikan dalam mengawal, mengawasi, dan membina lembaga-lembaga swasta tersebut. Dengan demikian visi dan misi pemerintah dapat terwujud.

Di sisi lain, lembaga swasta juga diharapkan dapat menjalankan amanahnya dengan baik, menjaga kepercayaan masyarakat, dan bersama-sama mencapai tujuan nasional dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Imam Yakhsyallah Mansur adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan Al-Fatah Indonesia.

banner 336x280
banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published.