banner 728x250
Berita  

Kasus Razman Nasution: Momentum Peningkatan Organisasi Advokat

banner 468x60

TM Luthfi Yazid, SH, LL.M.

banner 336x280

Oleh TM Luthfi Yazid

Peristiwa yang dialami Razman Arif Nasution (RAN) yang viral di media sosial beberapa hari terakhir ini menjadi momentum bagi organisasi advokat dan advokat untuk introspeksi dan memperbaiki diri, apalagi profesi advokat pada prinsipnya adalah profesi terhormat atau officium nobile.

Dalam beberapa hari terakhir, terjadi gejolak di dunia advokat terkait sosok RAN ​​yang diberhentikan secara tidak hormat oleh Kongres Advokat Indonesia (KAI) 2008 itu.

RAN, menurut keterangan KAI (2008), diduga telah melakukan pelanggaran terkait ijazah, SK pengangkatannya, masa magangnya, serta adanya pengaduan klien lainnya terhadap RAN.

Selanjutnya, RAN mengajukan permohonan untuk bergabung dengan KAI yang dipimpin oleh Tjoetjoe Sandjaja Hernanto (TSH). Terkait hal tersebut, ada kontroversi di kalangan KAI (TSH) alias pro dan kontra bahwa ada yang tidak keberatan bergabung dengan RAN, namun tak sedikit pula yang mengkritik dan menolak bergabungnya RAN ke KAI (TSH).

Oleh karena itu, Pengurus Pusat (TSH) KAI membentuk Tim Verifikasi terkait masalah RAN tersebut. Namun, setelah Tim Verifikasi terbentuk, ternyata kakak RAN ​​memberikan pernyataan kepada publik bahwa RAN tidak bergabung dengan KAI (TSH) dan memilih bergabung dengan PERADI Bersatu.

Fenomena “lompat pagar” yang dilakukan RAN perlu ditonjolkan dan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh organisasi advokat dan advokat karena menyangkut beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, terkait dengan integritas, yang merupakan nilai intrinsik dan merupakan aset paling mahal dari seorang advokat. Integritas ini dibangun berdasarkan sistem nilai atau landasan bukan pada penetapan Kode Etik Advokat (KEA). Penguatan integritas advokat adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang dianggap biasa.

Kedua, terkait dengan kepercayaan publik. Kepercayaan masyarakat ini sangat penting untuk dijaga oleh organisasi advokat atau advokat. Dengan kepercayaan masyarakat ini, nilai-nilai keadilan dapat diperjuangkan. Bukan hanya kepastian hukum, melainkan kepastian hukum yang adil yang harus dikedepankan sesuai dengan amanat konstitusi.

Ketiga, dalam konteks ini, yang dibutuhkan bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga penegakan etika. Oleh karena itu, penting untuk membangun atau membentuk Dewan Kehormatan Gabungan Advokat yang kredibel sehingga peristiwa “lompat pagar” dapat diminimalisir.

Akhirnya, acara heboh semacam ini juga bisa disamakan dengan kehadiran kerikil di dalam sepatu. Artinya, jika ada kerikil di dalam sepatu, bukan sepatu yang dilepas, melainkan kerikil yang dilepas.

Pada titik ini, sudah saatnya semakin banyak organisasi advokat yang bersinergi dan menginisiasi pembentukan Dewan Kehormatan Advokat Bersama yang terdiri dari orang-orang yang berintegritas dan kredibel.

Melalui upaya ini diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap advokat dan organisasi advokat akan tumbuh kembali. Di sisi lain, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap advokat dan organisasi advokat akan luntur dan hilang.

TM Luthfi Yazid, Alumnus School of Law, University of Warwick UK, Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Alumni Inggris Indonesia (IABA), mantan peneliti di University of Gakushuin, Tokyo dan salah satu pendiri Japan Indonesian Lawyers Association (JILA).

banner 336x280
banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published.