banner 728x250
Berita  

In Memoriam Azyumardi Azra: Lebih Lembut dari Cak Nur

banner 468x60

Penulis dan Budayawan Uten Sutendy (dok. Pribadi).

banner 336x280

Oleh Uten Sutendy

Jakarta – Suatu hari di awal tahun 90-an, saya baru saja menyelesaikan tugas jurnalistik dari Lampung dan Palembang. Karena “desa kedua” saya adalah Ciputat, tujuan pulang saya dari perantauan adalah Gang Semanggi atau Balai Rakyat Cita Situ Kuru, Ciputat, tempat berkumpulnya para aktivis senior HMI.

Saya bertemu dengan aktivis, mitra diskusi ketika saya masih seorang aktivis. Salah satunya adalah Azyumardi Azra yang saat itu baru saja kembali dari studinya dari McGill, Kanada, seumuran dengan Dien Syamsuddin.

Tentu ada teman-teman lain yang ditemui, antara lain Prof Badri Yatim, Dr Didin Safruddin, Saleh Abdullah, Dr Ihsan Ali Fauzi, Saeful Muzani, Ade Komaruddin, Ahmad Sanusi, dan Hendro.
Azyumardi adalah mentor kami bagi para aktivis Ciputat.

Saat itu kami bertemu di rumah makan Padang di depan gedung lama IAIN. Azyumardi mengendarai motor Honda kancil berumur setahun, sedangkan saya dan Didin Safrudin berjalan kaki dari Gang Semanggi.

Sambil makan rendang sapi, Azyumardi berkata: “Jadi mau kerja dimana, Ten?”

Pertanyaan yang sulit saya jawab saat itu. Saya memesan Nasi Padang plus ayam goreng untuk mengalihkan fokus pembicaraan.

Terlebih lagi, kami jarang bertemu secara intim lagi karena fokus kesibukan masing-masing. Saya kembali ke lini media di Jakarta. Azyumardi menjadi dosen, dekan dan terakhir Rektor UIN bergelar guru besar.
Berkat bimbingannya kami senang untuk terus berkembang sebagai “warga desa Ciputat”.

Didin dan Badri Yatim menjadi dosen dan guru besar, Ade Komaruddin menjadi politisi, Ihsan Ali Fauzi menjadi peneliti, Saleh Abdullah menjadi aktivis sosial internasional, Saeful Mujani menjadi peneliti dan ulama besar, sedangkan saya bersyukur menjadi orang yang bukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa.

Pada masa Rektor IAIN yang dijabat Prof. Dr. Harun Nasution, ada “tiga keping emas” yang paling bersinar di IAIN Jakarta, yakni dosen muda Azyumardi Azra, Dien Syamsuddin, dan Mulyadi Kertanegara.

Ketiga orang ini sekaligus dikirim oleh Pak Harun ke Amerika untuk kuliah di universitas ternama. Masing-masing mengambil jurusan yang berbeda. Azyumardi mengambil jurusan sejarah dan filsafat Barat, Dien Syamsuddin jurusan filsafat Islam modern, dan Mulyadi Kertanegara jurusan sejarah.

Sepulang dari Amerika, mereka bertiga aktif menulis di berbagai media nasional dan dikenal sebagai cendikiawan muda. Dien aktif di bidang politik Islam, Azyumardi fokus di bidang akademik dan keilmuan. Sementara itu, Mulyadi aktif sebagai dosen di berbagai universitas nasional (guru besar di UGM) dan dosen terbang di beberapa universitas di Amerika dan Eropa.

Kalau mau jujur, Edy (Azyumardi Azra) adalah generasi terakhir IAIN yang mampu menyumbangkan pemikiran Islam dan Indonesia di tanah air dengan cara yang begitu produktif dan visioner. Setelah generasinya, tidak banyak generasi muda yang muncul semurni dan seproduktif dia dalam menulis dan berkarya di bidang ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Mulyadi Kartanegara, teman sekelasnya, memang produktif. Terakhir menulis biografinya hingga tiga jilid dengan ketebalan lebih dari 600 halaman per jilid, dalam bahasa Inggris. Biografi tersebut menceritakan perjuangan beliau dalam menyikapi perkembangan pemikiran Islam di tanah air dan di dunia. Sementara itu, karya sosialnya masih belum menonjol.

Sementara itu, Dien Syamsudin yang popularitasnya mulai banyak menulis, lebih fokus pada dunia politik dan kekuasaan.

Ada beberapa nama, seperti Ihsan Ali Fauzi, Ali Munhanif, Saeful Mujani, Arief Subhan yang agak fokus pada kajian pemikiran Islam, namun tulisan mereka masih jauh dari kata jernih, murni dan produktif, seperti karya-karya Kak Edy. , panggilan akrab Azyumardi Azra. .

Azyumardi, ulama kelas dunia dari Indonesia bisa dibandingkan dengan mentornya, Cak Nur (Nurcholis Madjid). Bedanya, pemikiran Cak Nur dan Kak Edy terletak pada kedalaman dan keberanian.

Pemikiran Cak Nur semakin dalam, mencolok hingga menyentuh akar sejarah Islam dan Indonesia sehingga dengan berani ia melahirkan semboyan “Islam Ya, Partai Islam tidak”.

Sementara itu, karya-karya Kak Edy seolah mencoba menerjemahkan landasan pemikiran yang telah dibangun oleh seniornya, Cak Nur, dengan kecerdasan intelektual yang luar biasa. Kemampuan bahasa Kak Edy sangat baik sehingga pemikirannya terasa lebih lembut (non-politis) di mata pembaca, sehingga lebih diterima oleh masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang.

Perpisahan dengan guru, mentor, dan teman-teman kami.

Uten Sutendy adalah seorang penulis dan humanis.

banner 336x280
banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *