banner 728x250
Berita  

Berbagi Tentang Stunting, Dinkes Barut Hadirkan Guru Besar UNLAM

banner 468x60

Barito Utara – Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara (Dinkes Barut) mengadakan kegiatan sharing dan diskusi tentang stunting dan permasalahannya. Diskusi dihadiri Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (ULM) Prof Dr Husaini.

banner 336x280

Kegiatan sharing dan diskusi dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Barito Utara, H Siswandoyo, dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan lingkup dan dari lintas sektor dan lintas program penanggulangan stunting di Barito Utara.

“Data hasil pemantauan Status Gizi tahun 2019 menunjukkan angka stunting di Barito Utara sebesar 26,57 persen dan untuk tahun 2021 berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) angka stunting di Barito Utara sebesar 28,3 persen,” ujarnya. Kepala Dinas Kesehatan H. Siswandoyo saat membuka kegiatan, Jumat (10/6/2022).

Siswandoyo mengatakan upaya pengurangan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi khusus untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

Menurut Kepala Kesehatan, intervensi gizi spesifik adalah kegiatan yang langsung menangani terjadinya stunting, seperti asupan makanan, infeksi gizi ibu, penyakit menular dan kesehatan lingkungan.

“Intervensi khusus ini umumnya diberikan oleh sektor kesehatan,” katanya.

Lebih lanjut Siswandoyo, intervensi gizi sensitif meliputi peningkatan penyediaan sarana air bersih dan sanitasi, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik asuhan gizi ibu dan anak.

“Kemudian, tingkatkan akses pangan bergizi. Intervensi gizi sensitif umumnya dilakukan di luar Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Siswandoyo juga menyampaikan bahwa Pemkab Barito Utara terus berupaya mengoptimalkan program-program penurunan stunting, antara lain yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui intervensi gizi khusus, penyediaan data angka stunting dan cakupan pelayanan kesehatan melalui aplikasi e-PPGBM.

“Termasuk kegiatan yang kita lakukan hari ini dengan perguruan tinggi sebagai mitra kerja dalam mengurangi stunting. Hari ini kita akan mendengarkan sharing dan diskusi tentang stunting dan permasalahannya untuk memperkaya pengetahuan kita dalam upaya pengurangan stunting khususnya dalam penyusunan peraturan daerah terkait stunting dan komunikasi perubahan perilaku di Barito Utara,” kata Siswandoyo.

Sementara itu Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Prof Dr Husaini dalam kegiatan ini memaparkan solusi permasalahan stunting yang pertama, yaitu meningkatkan kegiatan berbasis keluarga di Kampung Keluarga Berkualitas (K2B). Kedua, revitalisasi posyandu, ketiga intervensi gizi spesifik dan sensitif, keempat intervensi pengurangan stunting yang harus ada di desa dan peta siklus keluarga kelima.

Upaya percepatan penurunan stunting, kata dia, antara lain intervensi gizi khusus dan intervensi gizi sensitif. Untuk intervensi gizi khusus, pertama PMT untuk mengobati KEK pada ibu hamil, tablet zat besi untuk anemia pada ibu hamil, konsumsi garam beryodium, ASI eksklusif, menyusui sampai usia 2 tahun disertai dengan makanan pendamping ASI yang memadai untuk imunisasi.

Kemudian, suplementasi seng, fortifikasi zat besi ke dalam makanan, obat cacing, vitamin A, pengelolaan gizi buruk, pengendalian malaria, pencegahan dan pengobatan diare serta cuci tangan yang benar.

Sedangkan intervensi gizi sensitif, pertama air bersih, sanitasi, fortifikasi-ketahanan pangan, akses pelayanan kesehatan dan KB, JKN, Jampersal, Jamsostek lainnya, parenting education, HI-SDIDTK PAUD, pendidikan gizi masyarakat, seksual dan pendidikan kesehatan reproduksi. dan nutrisi untuk kaum muda, serta program padat karya. (@kebohongan/Tim).

banner 336x280
banner 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published.